Perjalanan Hidup, Pilihan, Dan Ketetapan Takdir
Dalam perjalanan hidup sering kali kita dihadapkan pada pilihan yang menentukan arah masa depan. Sebagai mahasiswa, saya pernah mengalami momen yang sangat berkesan. Wakil Ketua Kampus, Bapak Nor Hidayat, meminta saya mengajar di SMP Negeri 2 Palengaan sebagai Guru Tidak Tetap (GTT). Tugas ini membawa saya bertemu dengan banyak siswa-siswi yang memotivasi saya untuk merenung tentang perbedaan kesempatan pendidikan.
Melihat semangat para siswa di sekolah itu, saya bertanya-tanya dalam hati, Mengapa anak-anak di sini bisa bersekolah, sedangkan banyak anak di kampung saya hanya menganggur? Pertanyaan itu semakin mendalam ketika saya menyadari bahwa sebagian besar anak di kampung saya berhenti belajar setelah tamat Sekolah Dasar, terutama anak perempuan, menikah muda jika tidak merantau. Pertanyaan besar lain pun muncul.
Bagaimana masa depan mereka?
Keprihatinan itu menggugah hati saya. Saya memutuskan untuk berhenti dari tugas sebagai GTT di SMP Negeri 2 Palengaan dan kembali ke kampung halaman. Dengan meminta restu dari aba (ayah) dan berdiskusi bersama tokoh masyarakat, saya berinisiatif mendirikan sebuah sekolah lanjutan tingkat pertama. Alhamdulillah, berdirilah MTs Nahdhatun Nasyiin IV—sebuah langkah awal untuk memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak kampung saya.
Refleksi di Tengah Perjalanan
Namun, di balik keputusan besar itu, ada momen-momen refleksi yang sering muncul. Teman-teman seangkatan saya yang dulu sama-sama menjadi GTT di SMP Negeri 2 Palengaan kini telah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Bahkan beberapa di antara mereka telah menjabat sebagai kepala seksi atau kepala bidang di instansi pemerintahan. Kadang saya berpikir: “Andai saya tidak berhenti sebagai GTT, mungkin saya juga menjadi seperti mereka”.
Saya teringat program pemerintah yang mengangkat seluruh GTT menjadi PNS setelah saya berhenti. Dalam hati kecil, ada sedikit rasa penyesalan. Tetapi, saya belajar menerima bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.
Keteguhan Hati dan Hikmah dari Takdir
Orang yang teguh hati akan selalu mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan yang diambil. Jika hasilnya sesuai harapan, ia akan memuji Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya. Namun, jika hasilnya berbeda dari keinginan, ia akan berkata: “Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan”, Dengan hati yang lapang ia menerima takdir tanpa kesedihan.
Nasib setiap orang memang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat hidup menjadi indah dan penuh hikmah. Alhamdulillah, pada tahun 2013 saya dapat mendirikan Pondok Pesantren Al-Mawardi sebuah langkah lanjutan dalam perjalanan saya untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan takdir yang saling melengkapi. Tugas kita sebagai manusia adalah berusaha sebaik mungkin, merenungkan hikmah di balik setiap kejadian, dan terus bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Apa yang kita anggap sebagai kekurangan atau kehilangan, sering kali adalah jalan menuju anugerah yang lebih besar.
Tags : sosial beritaBagikan :