Menjaga Lisan di Bulan Suci Ramadan

Menjaga Lisan di Bulan Suci Ramadan

Bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, umat Islam juga dituntut untuk menahan hawa nafsu, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik.

Ustad Habib Asy Ariey, pengurus Pondok Pesantren Al-Mawardi, dalam program Kalam Ramadan mengingatkan bahwa salah satu hal yang dapat menjatuhkan derajat seseorang adalah lidah.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tergelincir dalam dosa karena lisan mereka. Gibah (menggunjing) dan namimah (adu domba) menjadi kebiasaan buruk yang sering dianggap remeh. Padahal, dua hal ini bisa merusak hubungan sosial dan menghilangkan keberkahan hidup. Oleh karena itu, menjaga lisan harus menjadi bagian dari ibadah, tidak hanya di bulan Ramadan tetapi juga sepanjang kehidupan. 

Salah satu cara untuk mengendalikan lisan adalah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Dengan mengisi waktu dengan hal-hal baik, kita bisa lebih fokus pada ibadah dan menjauh dari kebiasaan buruk seperti membicarakan aib orang lain. Selain itu, memperbanyak amalan ini juga dapat membuat hati lebih tenang dan damai. 

Menahan diri dari perkataan buruk memang tidak mudah. Namun, Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih diri agar lebih bijak dalam berbicara. Jika seseorang mampu menjaga lisannya selama Ramadan, maka kebiasaan baik itu bisa berlanjut setelah bulan suci berakhir. 

Sebagaimana pesan Ustad Habib Asy Ariey, tidak ada cara lain untuk menahan lidah selain dengan memperbanyak sholawat. Dengan begitu, kita tidak hanya menjalani Ramadan dengan penuh berkah, tetapi juga meningkatkan kualitas diri sebagai pribadi yang lebih baik.

Tags : Hukum islam Agama Islam Santri Kalam Ramadan Kajian Islam

Bagikan :