Menjaga Amanah Status Dan Tanggung Jawab Sebagai Panutan

Menjaga Amanah Status Dan Tanggung Jawab Sebagai Panutan

Sebagai pengasuh sebuah pondok pesantren, saya menyadari bahwa banyak orang memiliki anggapan tertentu tentang bagaimana saya menjalani hari-hari saya. Mereka membayangkan bahwa saya memulai hari dengan wirid hingga selesai, dilanjutkan dengan mempelajari kitab-kitab keagamaan. Rutinitas ini dianggap membuat hari-hari saya lebih terarah, sehingga saya merasa puas dan nyaman.  

Namun, saya sering merenung dan merasa malu. Malu kepada manusia, apalagi kepada Allah yang Maha Mengetahui, jika keadaan saya tidak sesuai dengan harapan dan anggapan mereka. Betapa sedihnya hati kita, bila dianggap sebagai seorang kyai atau ustaz, tetapi pada kenyataannya kita tidak lebih alim dari mereka yang kita bimbing. Bahkan, bisa jadi mereka lebih baik daripada kita.  

Usaha untuk Menyesuaikan Diri dengan Amanah  

Karena itu, saya terus berusaha menambah pengetahuan dan membuktikan bahwa saya layak disebut seorang kyai, meskipun saya sadar bahwa diri ini masih jauh dari pantas untuk disebut syaikh atau ulama. Saya mencoba menunjukkan usaha ini melalui ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan saya. Setidaknya, ini adalah bukti di hadapan Allah bahwa saya berupaya menyesuaikan diri dengan status yang diberikan kepada saya atas kehendak-Nya.  

Memang, sebuah status tidak mudah disandang oleh seseorang. Siapa pun yang menyandangnya harus memahami sepenuhnya tanggung jawab yang melekat pada status tersebut. Jika tidak, status itu hanya akan menjadi label kosong tanpa arti, atau lebih buruk lagi, menjadi alat untuk mengejar kepentingan duniawi semata.  

Status sebagai Jalan Menuju Kebaikan  

Barang siapa ingin membina kemuliaan, memanen pahala, dan mendapatkan kecintaan Rasulullah SAW, maka ia harus menggunakan statusnya untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika seseorang adalah seorang ustaz, ia harus terus belajar agar semakin alim, sehingga dapat mendidik dan membimbing umat sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan sunnah, sebagaimana yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu.  

Jika seseorang adalah seorang pedagang, ia harus terus berusaha dengan semangat. Berangkatlah dengan keberkahan Allah SWT, karena peluang usaha dan rezeki sudah menanti. Namun, jangan lupa untuk mengasihi fakir miskin dan menyantuni anak-anak yatim.  

Tanggung Jawab sebagai Panutan  

Seorang kyai atau ustaz adalah panutan umat. Perkataannya diikuti, perilakunya dicontoh, dan gerak-geriknya menjadi acuan bagi banyak orang. Betapa berdosanya seseorang yang menyandang status ini jika tindak-tanduknya menyimpang dari aturan Allah dan Rasul-Nya.  

Maha Suci Allah, Zat yang Maha Raja dan Maha Benar. Dia memberikan nikmat kepada siapa pun yang Dia kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat. Allah mempermudah urusan hamba-Nya yang Dia kehendaki untuk mendapatkan kebaikan. Tugas kita sebagai manusia adalah menjaga amanah status dan tanggung jawab yang diberikan, serta menggunakan keduanya untuk membawa manfaat bagi diri sendiri, umat, dan agama.

Tags : sosial

Bagikan :